The Extraordinary Life of Monang Siagian

Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Agustus, 2015. Credit to Amir Imanuddin.
Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Agustus, 2015. Credit to Amir Imanuddin.

“When life hands you once-in-a-life-time opportunity, you don’t think about grabbing it. You just do.”

Berpakaian baju polo tipis dan celana jeans panjang yang menjuntai lemas di kaki kirinya, Monang Siagian terkesan begitu menikmati hidup dengan sebatang rokok yang bertengger santai di antara jemari tangan kanannya. Senyuman lebar sering tersimpul dari wajah ekspresifnya. Jika bukan untuk tongkat yang dipakainya untuk berjalan, tak ada bedanya Monang dengan ribuan manusia yang ia temui setiap harinya sebagai pengusaha rental mobil. Tidak banyak yang tahu kalau bapak berumur 53 tahun ini ternyata adalah seseorang yang sangat spesial. Belum banyak orang Indonesia yang telah sanggup mengharumkan nama negara hingga luar negeri, bukan?

Ya, penampilannya mungkin sudah tidak seprima hari-harinya dahulu sebagai seorang atlet nasional, namun tidak susah membayangkan sosok Monang di masa kejayaannya: matanya masih menyinarkan semangat yang sama; tubuhnya juga masih aktif dan lincah. Kecelakaan yang mengharuskan kaki kirinya diamputasi ketika berusia 5 tahun pun tidak membuat dia berhenti menjalani hidup layaknya orang normal. Malahan, dia nekat minggat ke ibukota!  Bagaimana bisa seorang anak dari kota kecil Kisaran menjadi pengibar bendera Indonesia di kancah internasional?

Berikut ringkasan wawancara mengenai kisah hidup luar biasa seorang Monang Siagian.

  1. Bagaimana ceritanya Anda bisa memulai karir sebagai seorang atlet?

Tergoda dengan seorang teman yang hidup mandiri di Jakarta, saya memutuskan untuk menyusul ke sana meskipun orang tua kurang setuju. Tak gentar dengan status pendidikan yang hanya tamatan SD, saya berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai ballboy di Tennis Indoor Senayan. Uang Rp 20.000 per hari saya kantongi untuk memungut bola tenis selama 4 jam.

Setelah lama mengamati permainan dari tepi lapangan, saya pun iseng mencoba bermain tenis melawan pelatih asing dan teman-teman lain. Meskipun masih menggunakan tongkat, saya masih lebih sering menang dibandingkan dengan lawan saya yang notabenenya orang normal. Lalu ada anggota KONI Jakarta yang menghampiri saya untuk mengajak berlatih secara serius. Disitulah awal saya belajar bermain tenis di atas kursi roda.

  1. Selama jejak karir Anda yang begitu mengesankan, apa memori terbaik Anda?

Ya, setelah memenangkan Kejurnas Piala Ibu Tien Soeharto tahun 1988 mewakili DKI Jakarta, saya dikirim ke Roermond, Belanda pada tahun 1995. Saya tidak menang namun berhasil masuk top 18 dunia dan diberikan sebuah kursi roda titanium. Lalu Melbourne, Australia setahun kemudian. Prestasi saya mulai turun sejak periode ini, akan tetapi saya masih sempat bertanding di Inggris. Di sini saya bertemu dengan orang yang mengajarkan saya keahlian untuk membuat rumah boneka Barbie.

Titik cerah di karir saya datang pada tahun 1996 ketika saya memenangkan medali emas di Kejurnas Tenis Berkursi Roda. Rasanya bangga luar biasa. Terakhir saya ikut untuk memperebutkan tiket ke Amerika Serikat, tapi gagal dalam seleksi di Malaysia tahun 1997. Tatkala balik ke tanah air, saya sempat mengikuti  Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) di Palembang pada tahun 2004. Medali emas dari tenis lapangan dan medali perunggu dari balap kursi roda saya bawa pulang untuk Kota Medan.

  1. Lantas, kenapa Anda memilih untuk menggantungkan raket di tahun 2004?

Sebelum perlombaan di Palembang, saya pernah dijanjikan hadiah oleh almarhum Gubernur Sumatera Utara, Tengku Rizal Nurdin, berupa bonus sebesar 80 juta dan sebuah pekerjaan tetap jika saya juara sebagai atlet delegasi Kota Medan. Ketika saya memenangkan 2 medali, ternyata hanya uang 30 juta yang dicairkan oleh KONI Medan, pekerjaan pun tidak ada. Kemudian saya pakai dana itu untuk membuka bisnis rumah boneka Barbie dengan ilmu yang saya dapatkan semasa pelatihan kerajinan tangan di Inggris. Saya juga menjadi supir taksi di waktu senggang untuk menambah penghasilan demi membiayai istri dan anak.

  1. Supir taksi? Bagaimana cara Anda menyetir?

Semasih menjadi ballboy di Senayan, banyak mobil-mobil dinas yang menganggur di parkiran ketika malam. Keseringan mengamati para supir KONI menjemput penumpang, saya pun sudah cukup familiar dengan cara mengoperasikan sebuah mobil. Pas stadion sepi, saya praktek sendiri di lapangan Senayan dengan mobil Kijang yang masih menggunakan sistem manual. Pertama-tama mulai menyetir, saya akali pedal kopling dan rem dengan tongkat saya. Namun akhirnya saya rakit juga sebuah perkakas kopling khusus untuk memudahkan saya menjalankan bisnis sewa mobil ini.

  1. Saya dengar-dengar bisnis rumah Barbie Anda lumayan laris ya…

Sekarang saya sudah punya tempat kerja sendiri di Jl. SMA Negeri 2, Polonia, untuk mengelola usaha rumah Barbie bersama istri saya. Dulunya pernah ada 3 cabang; sekarang saya gabungkan menjadi satu. Pernah mendapat pesanan dari turis luar negeri yang singgah di Medan, seperti dari Taiwan, Malaysia, Australia, hingga Belanda. Bersyukur masih mendapat pesanan secara rutin sebanyak 25-30 unit dan mampu mempekerjakan 5 orang karyawan.

  1. Pernah ada keinginan untuk kembali ke sektor olahraga? Barangkali menjadi seorang pelatih?

Jika ada tawaran dari KONI dengan kompensasi yang sesuai, saya memang rindu untuk membenahi para atlet tanah air agar bisa kembali menorehkan prestasi sebagaimana saya dahulu. Akan tetapi pemerintah juga perlu belajar untuk menepati janji mereka dan memberikan perhatian khusus supaya dunia olahraga tanah air mampu berkembang layaknya negara lainnya.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Agustus, 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s