Living in Medan: Expatriate Edition

The upsides of moving halfway around the world to this city, straight from the mouths of foreig­ners who have made their homes here.

“Eh, ada bule! Mister, mister, where you going ah?”

Celetukan ini umumnya terdengar ketika ada orang berkulit putih bak porselen, a.k.a bule, melintas di jalanan Kota Medan. Adegan di mana segerombolan bocah yang kemudian mengekori makhluk asing ini–sambil tersenyum malu-malu dan berjalan seperti kucing karena takut ketahuan–pun sudah menjadi sebuah tontonan yang sangat lumrah di kota tercinta ini.

Anehnya, hanya ada satu jenis panggilan yang biasanya dipakai orang Medan untuk menyapa para bule ini, yaitu “Mister”. Mau empunya berjenggot tebal atau berpoles lipstik, berkulit sewarna zaitun atau bahkan gelap seperti cokelat, asal kelihatan asing, pasti kata “Mister”-lah yang terdengar. Mungkin karena inilah satu-satunya kata yang paling gampang dilafalkan oleh lidah totoknya manusia di sini.

Seringkali bule-bule ini akan menyahut ketika disaluti secara sopan, namun lucunya respon yang didapat tak selalu positif; kebanyakan warga malah akan kabur, kepergok sudah menyaksikan “artis-artis impor” ini layak­nya binatang langka di Kebun Binatang Siantar.

Ternyata banyak orang Medan yang suka menggoda tapi tidak tahan digoda. Soalnya, bukan percakapanlah yang benar-benar mereka inginkan, melainkan sebuah cerita dari interaksi berharga ini untuk dikisahkan kembali kepada orang terdekat de­ngan rasa bangga.

Di mal ataupun dae­rah-daerah yang agak “beradab”, barangkali pertanyaan sejenis ini tidak akan terlontar dengan sebegitu lantangnya (karena gengsi dan martabat tetap harus dijaga), namun tetap saja akan ada bisikan atau lirikan sembunyi-sembunyi yang ditujukan kepada para turis ini. Baik maksudnya karena cuma penasaran ataupun kagum dengan fisik mereka yang sangat eksotis, bule dianggap sebagai manusia-manusia super yang pantas diladeni dengan satu atau dua buah komentar.

Lantas, apa pendapat para bule mengenai fenomena ini? Kebanyakan dari mereka tetap akan nyengir saja ketika ditegur dengan cara Tarzan beginian. Tapi di dalam benaknya, mereka bisa saja membayangkan sedang mengetok kepala Anda dengan palu layaknya dalam kartun anak-anak. Kenapa? Karena kata bule ditafsirkan mempunyai konotasi rasis bagi mereka. Oops! Memang tidak asyik rasanya kalau harus dijuluki; terlebih lagi kalau julukannya menggambarkan Anda sebagai makhluk albino a la The Abominable Snowman.

Pengalaman kerja dengan mantan kolega yang rata-rata kaum ekspatriat pun menguak sisi lain dari kehidupan seorang perantau dari belahan dunia lain. Ternyata cukup menarik mengamati kehidupan di “kota makan-makan” ini dari kacamata orang asing.

Seorang guru asal Ceko yang cinta sejarah (dan mungkin lebih tahu tentang Indonesia daripada Anda dan saya) menyatakan bahwa Medan adalah kota kedua setelah Kenya yang ia anggap sebagai rumah. Mengetahui bahwa dia sudah mengunjung­i 52 negara, pernyataannya tidak bisa kita anggap sepele. Begini ungkapnya, “Well, makanan kalian memang luar biasa pedas dan cara menyetir kalian tidak ada duanya di dunia, tapi kampung besar ini telah membuat saya jatuh cinta.”

Graham, District Sales Manager di Best Fitness, pun menyuarakan sentimen yang sama, “Mati lampu berjam-jam, macet di mana-mana, dan ketakutan dirampok atau terjebak modus, tidak bisa dibandingkan dengan langit cerah dan berbagai kuliner lezat yang bisa saya nikmati di sini.”

Tak lupa ia juga menyelipkan cerita yang menyengsarakan di kampungnya, Inggris Raya, “Anda tidak tahu betapa sengsaranya harus bangun pagi-pagi buta dalam cuaca 7 derajat Celcius, berusaha berpakaian dalam kegelapan, lalu menemukan mobil Anda tertimbun sepenuhnya oleh salju setinggi pinggang.”

Scott, seorang praktisi pendidikan yang baru saja pindah dari negeri kangguru, sangat terkesan dengan kultur ramah tamah yang dijunjung tinggi masyarakat Medan. “Ketika saya masih bermukim di Brisbane, tak banyak perkenalan yang saya lakukan. Semua orang sibuk dengan hidupnya sendiri; sapaan ‘hi-bye’ terucap hanya untuk bersikap sopan. Kamu bisa tinggal 10 tahun di sana tanpa pernah mengenal siapa tetanggamu sebenarnya,” tukasnya.

Scott masih melanjutkan cerita uniknya, “Waktu saya tiba di Me­dan, handphone saya sempat hilang karena kelalaian saya meninggalkannya di meja. Andai saya masih di Brisbane, mungkin saya akan mendapatkannya kembali karena CCTV yang ada di mana-mana, tapi saya tak rindu dengan betapa ‘di­nginnya’ manusia Australia. Medan bisa jadi rawan kejahatan, tapi saya cinta dengan orang-orangnya.”

Kota Medan memang unik. Dijuluki kota ketiga terbesar di Indonesia, namun atmosfir “kampung”-nya sulit diingkari. Gedung-gedung perkantoran menjulang tinggi di antara rumah-rumah penduduk. Mobil-mobil berseliweran bersama dengan sepeda motor di badan jalan yang sempit.

Ya, Medan merupakan sebuah contoh kota yang ingin modern tapi enggan melepaskan kulit lamanya. Kota perantara, kota singgahan, kota di antara. Akan tetapi tidak berarti kota ini tak punya pesonanya tersendiri. Bagaimanapun juga, jika ada seorang bule yang telah menginjakkan kaki di 52 negara dan masih saja memilih untuk tinggal di Medan secara sukarela, hidup di kota kampung ini barangkali tidaklah begitu buruk.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi September, 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s