Meet the Frenchman

Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Oktober, 2015. Credit to Amir Imanuddin.
Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Oktober, 2015. Credit to Amir Imanuddin.

Step into the life of Thomas Simoes, the French-Portuguese electronic musician with a passion for preserving world cultures.

Dengan man bun yang diikat santai untuk melengkapi gaya rambut cukur a la undercut dan jaket abu-abu yang dikenakannya, Tho­mas Simoes, Direktur Alliance de Française Medan, tampak sangat modis ketika bertamu ke Rumah Aplaus pada siang yang mendung itu. Cuaca dingin yang meng­hinggapi pertemuan pertama pun terhangatkan seketika melalui senyum ramah yang tersungging di bibir pria kelahiran Saint-Étienne, Perancis, 28 tahun silam ini.

Ya, penampilan Thomas yang begitu effortless-yet-cool memang membenarkan stereotipe les Français yang tidak pernah terlihat menghabiskan banyak waktu untuk memperindah diri. Tapi, style ini juga bukan hanyalah sekadar sebuah fashion choice belaka. Mereka yang bermata lebih jeli akan mampu mengenali latar belakang Thomas yang artistik melalui selera berpakaiannya.

Sebagai seorang electronic artist yang telah menelurkan 3 album dan menjejakkan kaki di 35 negara, pemilik moniker Metastaz ini telah cukup lama mengecap asam garam hidup seorang musisi.

Boleh dibilang, Thomas sedang berada di masa keemasan sebagai producer/DJ, apalagi dengan tren EDM (Electronic Dance Music) yang sedang melejit.

Lantas, apa yang membawa seorang calon superstar dari belahan dunia lain ini ke sebuah kota di Indonesia?

Berikut petikan wawancara dengan musisi humoris ini seputar masa kecilnya yang multikultural, pengalaman lucu ketika touring, dan misi khusus yang diemban­nya di Medan untuk mensosialisasikan budaya Perancis.

1. Apa yang membuat Anda jatuh cinta dengan musik pada awalnya? Bagaimana dengan electronic music?
TS: Ketika saya kecil, saya sempat didaftarkan ke sebuah konservatori musik klasik saat berumur 6 tahun, but I truly sucked at it. Saking buruknya, saya sampai didepak keluar 2 tahun kemudian. Ha-ha-ha… Untungnya, mental saya di usia 8 tahun masih cuek bebek. Ak­hirnya, saya dipindahkan juga ke sekolah musik lain dengan gaya pengajaran yang lebih eksploratif dan santai, which was really great.

Suatu hari, abang saya memperkenalkan saya pada computer music. Saya langsung jatuh cinta dengan ide bahwa kita bisa berkreasi musik dengan begitu gampang; berbekalkan sebuah laptop saja. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk terobsesi dengan segala sesuatu yang berbau electronic music, dan saya pun rutin mengunggah karya pribadi ke internet.

Breakthrough datang dalam bentuk sebuah e-mail yang mengundang saya untuk tampil di Berlin. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, karena Berlin merupakan kota ketiga terbesar di bumi bagi pencinta musik electro. So, begitulah kisah bagaimana konser perdana saya bisa terjadi dan disaksikan oleh lebih kurang 1.200 orang.

2. Adakah kenangan lucu dari tur dunia ini?
TS: Ketika saya selesai kon­ser di Guangdong, Tiongkok, saya memutuskan naik kereta api untuk balik ke Shanghai. Selama perjalanan, saya duduk di samping seorang anak perempuan yang terus mengajak saya ngobrol. Dari lagaknya, sepertinya dia tertarik dengan tato di lengan saya, namun saya tidak me­ngerti apa yang dia katakan sepenuhnya karena saya tidak menguasai bahasa Mandarin.

Setelah capek ngomong, dia pun beralih taktik dengan menggambar saya. Ibu dari gadis kecil ini hanya tersenyum tersipu tatkala menyadari keisengan anaknya. Setibanya di Shanghai, saya dihampiri ibu ini lagi waktu mengantre koper. Ternyata putrinya ingin berfoto dengan saya! Lalu saya meminta alamat e-mail beliau agar saya bisa mengirimkan pensil warna untuk little girl ini. A cute story, right?

3. Ngomong-ngomong, tidak banyak yang tahu kalau Anda memiliki gelar MBA di jurusan Management of Cultural Companies. Bisa dijelaskan sedikit mengenai pendidikan Anda?
TM: Di Perancis, banyak sekali perhimpunan yang didirikan untuk memelihara kultur Perancis, baik dalam bidang musik, fotografi, maupun seni kontemporer.

Singkat kata, degree saya berhubungan dengan tanggung jawab untuk me­mimpin salah satu organisasi ini, layaknya Alliance de Française. Kami bukan sekadar sebuah sekolah bahasa, melainkan juga fasilitator untuk menjembatani negara Indonesia dan Perancis.

Tak berarti kami akan mempromosikan Perancis sebagai tempat terbaik di dunia untuk dikunjungi. Itu bukanlah objektif utama AF. Kami ingin orang Indonesia menjadi lebih “open” untuk menerima budaya Perancis sehingga kerja sama bisa tercipta di kemudian hari.

4. Bagaimana mulanya Anda bisa bekerja sama dengan Alliance de Française? Apakah ada agenda khusus yang ingin dicapai di Medan?
TS: Dalam perhentian tur saya di Guatemala, saya tinggal di sana selama 2-3 minggu untuk show 2 kali sekaligus mengajar workshop anak-anak tentang bagaimana membuat musik dengan komputer. Itulah kolaborasi pertama saya dengan AF. Sesudah itu, India. Saya memang pernah ke New Delhi untuk mengerjakan soundtrack sebuah film, jadi ketika saya hendak merampungkan internship untuk MBA saya, muncullah ide untuk kembali ke India. Saya melamar ke beberapa tempat, salah satunya adalah AF di New Delhi, dan mendapat­kan respon seketika untuk interview.

Setahun di sana, saya kemudian memilih pindah ke Medan karena mau merasakan pengalaman tinggal di Nusantara sebagai orang lokal. Saya tidak datang dengan seabrek check list untuk ­mengubah pemikiran manusia Medan tentang Pe­rancis, tapi saya harap untuk meneruskan apa yang telah dilakukan Hélène (Direktur AF Medan sebelumnya-red) dengan movie preview dan menambahkan sedikit pengaruh saya sebagai musisi dalam program AF. Kita lihat saja ke depannya.

5. Lastly, apa saja sisi menarik tentang Perancis yang tidak banyak diketahui oleh orang awam?
TM: Perancis adalah sebuah negara yang sangat open-minded dan multi­­cultu­ral. Akan tetapi media sering bias dalam menyampaikan aspek ini sehingga muncul stereotipe bahwa orang Perancis itu tidak toleran dan sombong – terutama rumor bahwa kami hanya mau berbicara dalam bahasa Perancis saja ketika bertemu dengan orang antar bangsa.

Well, hal itu mungkin berlaku bagi generasi lebih tua yang belum sempat mempelajari bahasa Inggris. Bagi orang yang sering mengeluh tentang biaya hidup selangit di Perancis: Itu hanya berlaku di Paris saja, yang saya rasa memang mahal untuk ukur­an orang Perancis sendiri; masih banyak tempat-tempat lainnya yang cukup terjangkau, kok.

Terus, jika Anda bersedia untuk mengeksplorasi, Anda akan mampu me­nemukan berbagai tempat menarik yang menyediakan infrastruktur untuk wisata dan pendidikan yang baik.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Oktober, 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s