Better than Original

jolly-wee-and-peranakan-cuisine
Diambil dari silverliningsg.wordpress.com

How Medanese succeeded in upgrading the legacy of Peranakan tastes. 

Ketika ditanya tentang karakter umum orang Medan, sepertinya kata “trendsetter” dan “original” jarang sekali terdengar, apalagi menjadi yang pertama muncul di benak. Sebaliknya, sifat-sifat lain yang cenderung negatif – blak-blakan, kasar, dan royal – akan banyak terlontar, lengkap pula dengan nada yang menyiratkan kebanggaan tersembunyi. Kata-kata sakti macam “pionir” dan “revolusioner” dianggap terlalu berkelas, susah dimengerti oleh Medanese yang berkultur anti neko-neko. Tak ayal, kosa kata bernas pun hanya disematkan pada identitas kaum elit di pulau seberang. Imej kita lantas digambarkan layaknya tipikal konsumer abadi: para followers yang tak piawai dalam berkreasi, puas saja mengadopsi hasil kerja orang lain.

Sindiran yang cukup pedas ini barangkali akan membuat minder para insan berjiwa sensitif. Akan tetapi, mental anak Medan sudah diperkokoh setiap harinya lewat cara berkomunikasi bak inang-inang pajak, kejutan pengancam nyawa dari supir angkot, gertakan dari preman kompleks dan teman sejawat, serta konsumsi cabe rawit secara rutin. Kecil perihalnya jika ada sentilan yang datang dari manusia usil; asal yang di situ tahan disentil balik, ayok! Faktanya, karena Medanese rata-rata berwatak bandel, malahan cemoohan yang menghampiri akan dipakai sebagai senjata ampuh untuk meraih sukses. Tak percaya? Silahkan menelusuri sejarah bagaimana Kota Medan berhasil dinobatkan sebagai salah satu tempat wisata kuliner terbaik dalam negeri.

Meskipun merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia, Medan tidak memiliki objek wisata alam yang sangat memukau maupun beraneka ragam untuk menarik perhatian para wisatawan. Jika ingin melepas suntuk, hanya tiga tempat berikut yang sering disambangi: Bukit Lawang, Danau Toba, dan Berastagi. Tidak ada pantai yang benar-benar bagus, terlebih yang berpasir putih bak film The Beach. Lalu, apa yang bisa ditawarkan dari si kota transit? Sederhana saja: makanan. Berbagai jenis sajian dengan cita rasa yang telah disempurnakan melalui proses trial and error selama bertahun-tahun. Well, mungkin kita tidak bisa memuaskan mata para turis sehebat si Pulau Dewata; tapi untuk urusan perut, jangan tanyakan siapa juaranya.

Asimilasi kultur dari generasi ke generasi telah membuat khazanah kuliner Medan luar biasa kaya. Contohnya: keputusan para imigran Tionghoa yang menetap di daerah Malaka pada abad ke-15 dan membangun hidup baru bersama orang lokal. Berkat pernikahan beda budaya ini, terlahirlah satu jenis santapan baru yang bernama Peranakan cuisine (dari kata “anak” yang berarti keturunan). Pengolahan bahan makanan asli Tionghoa dengan rempah-rempah dan teknik memasak khas Melayu menciptakan suatu kombinasi cita rasa yang unik: asam, pedas, dan gurih. Bumbu-bumbu yang sering dipakai seperti santan, kemiri, serai, belacan, asam Jawa, jeruk nipis, cabai, dan daun laksa akan mengeluarkan minyak aromatik yang meresapi bahan makanan ketika ditumis. Tak heran jika orang Medan pun amat menyenangi kuliner fusion satu ini: cukup pedas seperti masakan Nusantara, tapi dengan sensasi rasa asam yang baru dan segar.

Untuk melepas kerinduan terhadap berbagai hidangan yang sudah mencuri hati (dan perut) ini, diboyonglah rasa masakan Peranakan dengan cara khas orang Medan, yaitu ATM – amati, tiru, dan modifikasi. Lama kelamaan, banyak usaha kuliner bercita rasa Baba Nonya yang kemudian bermunculan dan mendulang untung. Sebagai buktinya, Anda hanya perlu mengintip barisan orang yang mengantre untuk semangkok asam laksa di suatu rumah makan tertentu di jalan Yose Rizal. Lalu, singgah sebentar di daerah Kampung Madras untuk mencicipi tauco udang, ikan asam manis, cap chai, dan sop tahu bakso di restoran Tionghoa/ Peranakan yang ramai dikunjungi kaum bermobil mewah.

Apabila belum kenyang, puaskan nafsu makan Anda dengan sepiring kwetiau kangkung belacan. Ketika pagi menyingsing, jangan lupa untuk menyisihkan selembar rupiah berwarna merah demi menyantap bihun bebek termahal di Kota Medan. Jika ingin berhemat, pilihlah nasi lemak ataupun kuih-kuih lezat macam apem, curry puff, onde-onde, wajik, dadar gulung, ataupun nastar yang banyak dijajakan di pasar tradisional. Simpan sedikit ruang perut untuk menikmati pencuci mulut seperti ais kacang ataupun cendol yang dimaniskan dengan gula melaka. Ingat, masih ada otak-otak yang menunggu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi keluarga, lho!

Makanan kita sehari-hari ternyata sangat kaya dengan unsur Peranakan, bukan?

Memang, status Kota Medan sebagai salah satu foodie town yang paling diperhitungkan di Indonesia, dan bahkan Asia Tenggara, berhutang banyak terhadap pengaruh Peranakan yang diimpor oleh leluhur kita. Akan tetapi, kita tidak dapat mengesampingkan kecerdasan mereka dalam mengolah suatu hidangan di zaman tanpa internet, dan bahkan mampu membuat hidangan ini menjadi trademark dari kota tercinta. Meskipun mereka tidak mengkreasikan sesuatu yang benar-benar baru, ada sentuhan khusus yang membuat masakan mereka berbeda dari hidangan serupa di negara lainnya. Mungkin inilah keahlian yang diturunkan ke kita, kepiawaian untuk meniru, namun agar kita mampu membuat sesuatu menjadi lebih baik lagi. Jadi, barangkali julukan kita sebagai kaum pengikut pun tak perlu ditanggapi dengan rasa malu; melainkan dengan bahu membusung, dan kepala yang menengadah tinggi-tinggi.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi November, 2015.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s