The Magnificent Spices

spice
Diambil dari smartexports.net

More than a sensory experience for the taste buds.

Banyak anak muda, mirisnya, merasa tidak ada banyak hal yang membanggakan menjadi seorang WNI. Dari sistem pemerintahan, tingkat kesejahteraan rakyat, hingga nilai kontribusi bagi dunia, Indonesia masih sering kalah dibandingkan dengan negara lainnya. Namun, ada sebuah berkat yang dianugerahkan alam untuk para penduduknya. Sebuah hadiah yang telah melambungkan nama negeri beribu pulau ini di dunia internasional, sekaligus mendatangkan celaka dalam bentuk penjajahan ratusan tahun oleh kaum tamak berdarah Eropa: rempah-rempah. Kekayaan alam inilah yang membuat cita rasa kuliner Nusantara begitu kompleks dan khas; cerminan sempurna dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Tanah vulkanik Indonesia yang gembur membuat persoalan mengasapi dapur tidak ada apa-apanya. Tanaman mampu tumbuh subur tanpa diurus, termasuk rempah-rempah yang ada di mana-mana pada zaman dulu. Penduduk lokal lantas memakai tanaman beraroma eksotis ini untuk mengharumkan makanan mereka. Maka terciptalah bumbu: ramuan penyedap rasa dari rempah-rempah yang dihaluskan. Rempah-rempah bahkan sanggup mengawetkan bahan makanan karena senyawa anti-mikroba yang dikandungnya. Penasaran kenapa rendang tradisional bisa tahan disimpan hingga berbulan-bulan meskipun tidak didinginkan? Rempah-rempahlah rahasianya. Ya, pada zaman sebelum manusia mengenal makhluk tak kasat mata bernama bakteri, nenek moyang kita sudah cukup pintar untuk mengakalinya dengan rempah-rempah.

Sayangnya, seiring dengan perkembangan waktu, manusia mulai melupakan peran rempah-rempah dalam makanan. Alasan utamanya karena persiapan memasak menjadi lama. Resep kari kambing Aceh bisa memakai 27 jenis rempah untuk bumbunya saja. Beberapa rempah seperti lada, cengkeh, kapulaga, pala, kaskas, ketapang dan jintan perlu digiling. Ketumbar disangrai sebelum ditumbuk. Bawang merah dan bawang putih harus diiris dan ditumis dahulu bersama serai, kayu manis, bunga lawang, dan cabai giling biar harum. Daging kambing lalu dimasak bersama bumbu, daun salam, belimbing wuluh, dan santan selama lebih dari sejam dengan proses pengadukan tanpa henti (dikutip dari majalah Tempo). Dengan rutinitas sekarang, siapa yang sanggup menyisihkan waktu sedemikian banyak?

Ditambah lagi dengan tren globalisasi yang kian mengerus budaya lokal, alhasil orang Indonesia semakin berubah kebarat-baratan. Tidak ada lagi istilah “hidup santai” macam majalah Kinfolk ataupun lunch break berdurasi 2 jam seperti di Perancis dan Spanyol. Patokan kesuksesan diambil dari seberapa cepatnya Anda makan, bekerja, atau ber-multitasking. Disinilah fast food berjaya dalam mengakomodasi gaya hidup menyerupai roda hamster raksasa ini. Lama-kelamaan, preferensi kita pun beralih kiblat menjadi manut pada selera barat yang cuma mendewakan 3 rasa: asin, gurih, manis. Kalau dipikir-pikir, miskin sekali palet rasa dari lidah masyarakat tanah air sekarang. Di mana keberadaaan rasa kecut dari asam jungga ataupun sensasi getir dari andaliman yang membuat lidah kelu?

Beragam rasa unik yang dulunya bisa dicecapi oleh leluhur kita lantas menjadi barang langka. Padahal, dulu mereka berjuang menentang penjajah yang dengan rakus ingin menguasai hak monopoli rempah-rempah Nusantara. Sejarah mencatat betapa perebutan cengkeh dan pala serba berdarah-darah. Hingga abad ke-18, kedua jenis rempah-rempah ini hanya tumbuh di kepulauan Banda, bagian dari Maluku. Alhasil, semua negara Eropa berlomba-lomba melacak lokasi Banda demi komoditas yang berharga lebih dari emas ini.

Inggris dan Belanda lalu terlibat adu kekuatan untuk memenangkan hak memonopoli Banda pada 1621. Diperkirakan nyawa sekitar 14.000 penduduk lokal Banda melayang dalam perang rempah-rempah ini. Prospek keuntungan 300 kali lipat memang sulit ditolak Belanda, yang kemudian ironisnya berdamai dengan Inggris melalui barter wilayah bernama New Amsterdam – kini New York – dengan Pulau Run – pulau terkecil di Banda – milik Inggris.

Tercengangkah Anda dengan fakta di atas? Anda akan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa Indonesia perlu mengimpor sebagian besar rempah-rempah yang beredar di pasaran. Tahun 2011 saja, kita harus meminta bantuan kepada negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Tiongkok, dan bahkan Belanda yang telah memeras kering hasil bumi kita selama 350 tahun, untuk mencukupi kebutuhan domestik sebesar 750 – 800 juta dolar (dikutip dari Detik). Ini bagaikan Fiji yang harus meminta pasokan air dari negara lain meskipun, faktanya, mereka menjual air botolan termahal di dunia!

Rempah-rempah bukan hanya sekadar penyedap makanan belaka. Ia adalah sebuah simbol kemakmuran, saksi bisu dari keserakahan manusia tak bernurani, serta bagian dari identitas nasional NKRI. Anda tentu juga tak bisa menafikan kenyataan kalau rempah-rempah mengisi halaman dari sejarah Ibu Pertiwi yang sangat penting. Bung Karno sendiri pernah mewanti-wanti penduduk negeri ini: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Untuk hal berikut, Tiongkok sudah memulai inisiatif untuk menghidupkan kembali Maritime Silk Road (Jalur Sutra Maritim) yang akan melibatkan 60 negara dengan biaya sebesar 40 juta dolar. Dengan moto “One Belt, One Road”, Indonesia diproyeksikan menjadi pemilik kuasa maritim terbesar oleh Menteri Luar Negeri Tiongkok (dikutip dari The Jakarta Post). Inilah kesempatan Indonesia merengkuh kembali tahta yang sempat hilang: pemimpin perdagangan dunia di abad ke-21.

 

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Desember, 2015.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s