The China Lady

5318076-3x2-940x627
Mangkuk porselen teh berusia 500 tahun dengan nama Meiyintang Chenghua yang laku terjual seharga £21 juta pada tahun 2014. Diambil dari abc.com

For the love of porcelain.

Kecuali Anda terlahir di Britannia Raya pada tahun 1830-an, ataupun sering menyaksikan drama kehidupan kaum aristokrat Inggris macam Downton Abbey, siluet anggun dari cangkir teh bergaya Victorian tak akan terasa familiar bagi mata Anda. Terbuat dari porselen berjenis bone china dengan hiasan motif floral dan pulasan cat emas, tea cup kesukaan para bangsawan ini memang berbeda jauh dari cawan tanah liat sederhana yang umumnya digunakan oleh masyarakat lokal sejak zaman kolonial Belanda.

Namun, tidak demikian bagi Desiree Sitompoel. Dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai apresiasi mendalam terhadap kultur barat, sosok wanita anggun ini memang telah terekspos dengan beragam budaya luar sejak dini. Sang ibunda tercinta gemar berburu barang antik, termasuk cangkir teh, ketika travelling ke benua lain. Desiree memulai hobi serupa lebih dari 10 tahun lalu dan akhirnya menjadi figur businesswoman lewat toko pribadinya: Mamitoko.

Tidak berhenti sampai di situ, istri dari pengacara Hotma Sitompoel ini lalu merambah ke dunia tulis menulis untuk berbagi pengetahuan dengan sesama kolektor lainnya. Sebuah buku coffee table tentang serba serbi cangkir teh, SophisTEAcation: An Anthology of Porcelain Teacup Collecting, resmi menabalkan status Desiree sebagai seorang penulis. Di sela-sela acara peluncuran buku pertamanya, Aplaus pun berbincang santai dengan ibu empat anak ini mengenai passion terbesarnya.

  1. Bagaimana rasanya tumbuh dengan seorang ibu berjiwa kolektor?

Ibu saya suka berkeliling dunia, terutama untuk mencari barang-barang berbahan bone china. Beliau sering pulang dari Eropa sambil memborong bukan hanya satu cangkir teh saja, melainkan satu set lengkap (peralatan minum teh). Kalau saya ikut, saya acap kali disuruh untuk menjaga barang belanjaannya. “Ini kamu pegang ya, kamu harus tanggung jawab, jangan sampai pecah,” wanti-wantinya agar saya tidak ceroboh.

Saya ingat saya masih duduk di bangku sekolah dasar pada waktu itu. Ya, namanya anak kecil, saya suka sembrono. Biasanya ibu akan langsung berteriak panik. Ha-ha-ha. Akan tetapi, kebiasaan ini tanpa sadar saya teruskan hingga ke anak saya sendiri. Jika mereka kebetulan jalan-jalan ke luar negeri, saya tak khawatir untuk menitip ini itu. Malah anak saya yang kemudian protes karena jumlah titipan saya yang membludak.

  1. Seperti apa perjuangan Anda untuk mendapatkan sebuah item favorit?

Demi suatu koleksi tertentu, terkadang saya harus bertanya dari satu diler ke diler lainnya. Proses sourcing cukup memakan waktu, mengingat barang yang saya mau itu biasanya vintage. Contohnya: perangkat teh bermerek Wileman Foley. Kalaupun barangnya langsung tersedia, masih ada faktor harga yang mahal dan kondisi yang tak sempurna. Cacat seperti hair-line fracture (retakan tipis yang nyaris tak kasat mata), chip (serpihan yang hilang), ataupun crack (retakan kasar) kerap saya temui, namun saya tidak akan begitu permasalahkan jika memang sudah suka. Saya justru menganggap kekurangan ini memiliki nilai seni khusus. Biarkan saja apa adanya. Jika direparasi, hasilnya sudah tidak otentik lagi, bukan?

  1. Dari mana saja Anda mengumpulkan koleksi cangkir teh berjumlah ribuan ini?

Saya sering hunting di Inggris karena pasar barang antik rutin diadakan setiap harinya. Terakhir saya pergi ke Birmingham, di mana ada antique fair di National Exhibition Center (NEC) bernama Antiques for Everyone yang sangat terkenal dan hanya berlangsung 3 kali dalam setahun. Kalau mau masuk saja harus mengantri luar biasa panjang. Begitu pintu dibuka, orang langsung menyerbu masuk. Terus, pengunjung yang datang juga tidak sembarangan. Rata-rata menenteng kaca pembesar dan tak segan untuk merogoh kocek dalam-dalam. Barang-barang di pasar ini memang selalu menjadi rebutan karena kualitasnya terbukti bagus. Seringkali saya dirayu oleh kolektor lainnya untuk menjual barang hasil buruan saya di sini.

  1. Apa tips yang harus diketahui kolektor pemula agar tidak terkelabui oleh porselen palsu?

Salah satu cara untuk menilai keaslian bone china adalah melalui marking (cap yang ada di dasar cangkir). Tiap pabrik memiliki capnya tersendiri, namun ada merek yang memiliki marking beraneka jenis hingga ribuan, misalnya Limoges. Jadi, dibutuhkan pengetahuan lebih untuk mengenali marking yang telah ada. Sederhananya, Anda juga bisa mengamati kondisi cap tersebut; apakah terlihat baru atau lama. Sebagian porselen yang berasal dari Tiongkok dan Taiwan, umumnya memiliki cap mengkilat yang gampang dikelupas dengan kuku, seperti stempel belaka. Itu tandanya palsu. Ada juga perusahaan yang memakai nomor seri ataupun marking bergaya embossed.

  1. Ada pengalaman lucu selama mengoleksi?

Saya pernah membeli koleksi sebanyak satu lemari penuh lewat internet dari diler yang tak saya kenal. Ternyata dia menemukan saya dari searching di dunia maya dan bahkan tahu bahwa saya adalah seorang kolektor dan penulis buku! Lalu, dalam penerbangan ke London untuk menghadiri launching SophisTEAcation, saya sempat dihampiri seorang pria bule di dalam pesawat. Rupanya dia disuruh oleh pacarnya – yang juga seorang kolektor – untuk berfoto bareng dengan saya. Saya kaget benar karena buku saya belum resmi dirilis. Bagaimana orang-orang ini bisa mengenali saya? Jawabannya: berkat Instagram. Saya jadi merasa mendunia berkat kecanggihan jejaring sosial.

  1. Apa rencana kedepan untuk seorang Desiree?

Dalam proses pengerjaan SophisTEAcation yang diluncurkan perdana di London Book Fair pada bulan April lalu, saya sempat bertemu dengan salah satu pengrajin keramik di Bali yang karyanya juga saya masukkan di buku, yaitu Jenggala. Mereka mengajak saya untuk  berkolaborasi dalam merilis line pribadi saya. Terus, ada pula tawaran yang datang dari Batik Keris. Rencana untuk buku kedua juga sudah bergulir dengan fokus pada collector’s items bagi kolektor serius. Tapi saya harus cari koleksi yang benar-benar spesial dahulu. Selain itu, mungkin saya akan terus melukis dan “meracuni” orang lain agar jatuh cinta dengan tea cup. Ha-ha-ha.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Januari, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s