The Green Architect

Kapal-Bambu-6-Johanna-Henning-1024x684
Tampak dalam dari Kapal Bambu. Diambil dari ecolodges.id

Spreading the gospel of environmentally-responsible designs. 

Ada pemandangan berbeda yang disuguhkan Bukit Lawang pada siang itu. Di tengah rimbunnya pepohonan tropis yang mengelilingi Ecolodge, kawasan eco-friendly di tepi sungai Bahorok, menyembul sebuah struktur aneh menyerupai istana para raja Batak dahulu: Rumah Bolon. Mengingkat raja Batak terakhir, Sisingamangaraja XII, telah meninggal lebih dari seabad lalu, bisa dipastikan bangunan ini bukan didirikan bagi penerusnya.

Beberapa pekerja bersinglet pun terlihat sibuk dengan gergaji tangan dan batangan-batangan bambu di salah satu dasar kolom bangunan. Di sela-sela percakapan yang berlangsung, sayup-sayup terdengar celetukan dalam suara beraksen ganjil. Sepasang mata berwarna turquoise yang dibingkai oleh bulu mata super lentik lantas menghampiri untuk mengenalkan diri.

“Halo, saya Lukas Zollinger. I am the architect of this place,” katanya sopan sambil mengelap keringat yang bercucuran dengan lengan bajunya. Cuaca lembap dan panas Indonesia memang kontras sekali dengan iklim sejuk di mana pria berusia 32 tahun ini dibesarkan, yaitu Swiss.

Dengan penampilan yang lebih cocok menghiasi sampul majalah daripada lokasi konstruksi, Lukas tidak segan dalam berkotor-kotoran demi mewujudkan impiannya: menciptakan bangunan-bangunan indah yang ramah lingkungan.

Saya pun mengobrol asyik dengan si “arsitek hijau” tentang rencana besar bagi mahakarya pertamanya, kenapa bambu memiliki tempat spesial di hatinya, serta filosofi desain yang tak lekang waktu.

  1. Bagaimana Anda bisa terlibat dalam proyek antar negara (Indonesia – Swiss) ini?

Seusai magang sebagai tukang kayu di Swiss, saya aktif berlatih di lapangan sebagai seorang arsitek. Karena saya selalu menyambut kesempatan menambah pengalaman dengan tangan terbuka, saya lalu diajak seorang teman dekat keluarga untuk mengerjakan proyek environmental building center di Indonesia sebagai sukarelawan, tepatnya di Bukit Lawang. Dia bekerja untuk sebuah organisasi non-profit bernama PanEco yang mempromosikan konservasi alam dan pendidikan lingkungan hidup di Swiss dan Indonesia.

Saya tiba di Bukit Lawang pada pertengahan Februari 2014 untuk pengujian pra-proyek bersama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), partner PanEco di Indonesia. Ternyata hasilnya sukses. Ketika melakukan survey lokasi, saya pun terinspirasi untuk memanfaatkan bambu yang tumbuh subur di daerah sekitar untuk proyek ini. Begitulah ceritanya kenapa bangunan dua tingkat ini akhirnya dinamakan “Kapal Bambu”.

  1. Bambu bukanlah bahan bangunan yang sangat populer di Indonesia. Adakah alasan khusus kenapa Anda memilih material satu ini?

Saya ingin membuka mata masyarakat lokal terhadap kemungkinan menggunakan bambu dalam mengkreasikan barang-barang yang terbuat dari kayu. Bambu memiliki sifat dan cara pengolahan yang hampir sama dengan kayu, cepat bertumbuh, dan mampu hidup dengan baik di lingkungan beraneka ragam, bahkan dalam cuaca -25º C di Swiss!

Penggunaan bambu juga beresonansi dengan visi PanEco dan YEL untuk mendidik orang-orang setempat mengenai alam Bukit Lawang, mulai dari jenis tanaman hingga binatang yang hidup di sini. Idealnya, kita ingin menjadikan Kapal Bambu sebagai pusat komunitas di Ecolodge. Siapapun dipersilahkan untuk berkumpul di sini dan belajar tentang alam. Ada restoran di lantai pertama, serta ruangan serba guna yang bisa dipakai untuk kelas di lantai kedua.

  1. Apa saja kesulitan yang dialami ketika bekerja dengan bambu?

Karena saya tidak mampu mengumpulkan semua bambu yang diperlukan untuk konstruksi seorang diri, saya pun bekerja sama dengan sekelompok orang lokal dalam proses sourcing. Dari sekian banyak pohon bambu yang tumbuh di sini, diperlukan keahlian khusus untuk mengenali tipe bambu yang siap panen dan layak dipakai untuk keperluan konstruksi.

Sayangnya, komoditas bambu di Indonesia kurang dikembangkan. Akibatnya, kesadaran masyarakat tentang nilai pakai bambu pun sangat rendah. Banyak yang masih menganggap bambu sebagai material murahan dan tidak berkelas. Saya jadi harus mengajari kru saya tentang cara memanen bambu, dan berusaha untuk menghilangkan stigma negatif ini pelan-pelan.

Harapan terbesar saya adalah melihat para petani di sini mampu mengapresiasi dan mengolah bambu secara total; tidak hanya terpaku untuk mendulang untung dari perkebunan kelapa sawit saja. Ironisnya, kayu tropis selalu ditebang untuk konstruksi ini itu, padahal bambu memberikan manfaat yang serupa dengan kerugian alam yang lebih minim pula. Oleh karena itu, saya mendukung para petani untuk beralih menanam bambu.

  1. Tampaknya Anda begitu mencintai alam. Apakah Anda memang sudah menyukai alam sejak kecil?

Yes! Ada sebuah kebiasaan unik yang selalu saya lakukan ketika bangun pagi, yaitu berjemur untuk menyerap energi dari sinar matahari. It’s good to be with nature. Dalam proses membangun Kapal Bambu pun, saya selalu berusaha memasukkan sebanyak mungkin unsur-unsur alam ke dalam desainnya.

Mungkin kecintaan saya terhadap alam dimulai dari olahraga. Ketika tinggal di Swiss, selain skiing dan snowboarding, saya juga gemar berlayar dan surfing. Saya suka menggunakan tenaga alam yang selalu ada dan gratis untuk bersenang-senang secara sehat. Saya didorong untuk berpikir lebih cerdik agar bisa menikmati alam: bagaimana cara menempatkan diri di laut lepas, trik mengenali ombak yang cocok diseluncuri, serta menentukan momen yang tepat. Lagipula, jika Anda tidak berselancar hari ini, ombak laut tetap akan pasang dan surut, bukan? Kenapa tidak lantas memanfaatkannya saja?

  1. Apa filosofi desain Anda?

Di Swiss, kita punya satu kata yang cocok untuk menggambarkan prinsip satu ini: timeless. Barang-barang dengan desain yang simpel selalu akan tampak lebih baik seiring waktu; berbeda dengan barang-barang yang terlalu heboh secara visual. Menurut saya, barang-barang demikian hanya akan kita sukai untuk suatu kurun waktu saja. Barangkali filosofi ini akan saya terapkan dalam resort yang akan saya bangun untuk beristirahat di hari tua, besar kemungkinan dari bambu juga. Ha-ha-ha…

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Desember, 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s