The Ingenious Instant Noodles

studio-ghibli-ponyo-is-terrifyingly-good-and-difficult-to-not-love-it-instant-ramen-wit-366451
Adegan dari film Ponyo besutan Hayao Miyazaki. Diambil dari moviepilot.com.

Why this sodium-packed delicacy is so dear to our hearts.

Jika berbicara soal makanan favorit, baik bagi anak sekolahan maupun CEO perusahaan mentereng, salah satu yang teringat pastilah mi instan. Barangkali pengalamannya saja yang berbeda. Yang berseragam merah putih teringat dengan bekal istimewa dari sang bunda ketika tidak sempat memasak. Sedangkan yang bersetelan jas bisa jadi merasa rindu akan masa-masa lembur di kantor: mengerjakan pekerjaan tambahan hingga larut malam, hanya ditemani oleh bunyi klik-klak tuts keyboard dan wanginya MSG. Membayangkan endorphin yang mengalir tatkala menghabiskan seporsi mi instan memang luar biasa nikmat, apalagi dengan tambahan side dish seperti telur ceplok dan potongan cabai rawit. Yum!

Meresponi animo orang Indonesia yang begitu besar akan instant noodles, muncullah berbagai tempat makan yang khusus menjual aneka ragam hidangan mi instan. Sekilas, ide membayar seseorang untuk memasak sesuatu yang membutuhkan waktu kurang dari 5 menit memang terdengar gila. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa putra dan putri negeri memang gemar dilayani bak raja. Alhasil, di kota manapun di tanah air, tetap saja ada warung semalam suntuk yang menjajakan mi instan plus kornet dan parutan keju. Ada lagi yang memakai gimmick penyajian mi instan sepersis foto di bungkusan. Kemudian, ada yang akan membuat lidah Anda menari-nari dengan level kepedasan sesuai permintaan.

Berkat kreativitas para juru masak dalam mengolah mi instan, imej makanan yang dulu diidentikkan dengan kehidupan anak kos ini sudah pelan-pelan terangkat. Mi instan tak lagi dijadikan sebagai last resort di kala makanan lain tak tersedia, melainkan sebuah pilihan utama untuk urusan perut sehari-hari. Rahung Nasution, seorang antropolog kuliner Nusantara yang dijuluki Koki Gadungan, sampai-sampai berani menyebut mi instan sebagai national dish si Ibu Pertiwi! Ya, selain enak, murah, dan ada di mana-mana, mi instan juga gampang dimodifikasi menjadi makanan bernutrisi lebih. Cek saja ribuan video #RamenHacks yang ada di dunia maya. Anda bisa belajar cara menyulap mi instan menjadi 1.001 sajian lezat, macam burger, pizza, omelette, hingga spaghetti.

Chef peraih bintang Michelin seperti David Chang, pendiri grup F&B Momofuku, juga terkenal sangat menggilai mi instan, terutama ramen. Bermula dari kebiasaan menyantap ramen instan mentah sebagai kudapan sepulang sekolah, ia lalu membuka restoran pertamanya, Momofuku Noodle Bar, yang menyuguhkan ramen sebagai menu utama. Noodle Bar sukses memenangkan titel bergengsi “Outstanding Chef” dari James Beard Award pada 2013. Gaggan Anand, chef pemilik restoran terbaik di Asia versi majalah Restaurant, Gaggan, bahkan mengakui jika ia selalu memesan mi instan dalam pesawat, meskipun terbang dengan kelas bisnis. Perlu diingat, ini adalah seseorang yang pernah berguru kepada Ferran Adrià – si maestro molecular gastronomy.

Jadi, apabila chef kelas dunia pun tak lagi sungkan mengungkapkan rasa cintanya terhadap mi instan, apakah Anda masih merasa elitis?

Menurut The Noodle Narratives, buku non-fiksi yang mengupas tentang peran mi instan di 3 negara berbudaya kontras: Jepang, Amerika Serikat, dan Papua Nugini, tidak ada industri makanan yang berdampak sesignifikan mi instan bagi peradaban manusia. (The Noodle Narratives: The Global Rise of an Industrial Food into the Twenty-First Century). Tahun 2014 saja, konsumsi mi instan di seluruh dunia bertengger di angka 102,7 milyar. Indonesia sendiri menempati posisi kedua dengan 13,4 milyar (Instantnoodles.org). Mengingat jumlah penduduk negeri hanya berjumlah sebanyak 255 juta, ini berarti kita mengonsumsi lebih kurang 53 porsi mi instan setiap tahunnya (BPS.go.id). Luar biasa, bukan?

Kata kepraktisan yang melekat erat dengan mi instan memang sejalan dengan visi Momofuku Ando, seorang pebisnis berdarah Taiwan-Jepang yang prihatin dengan langkanya sumber makanan di Jepang pasca Perang Dunia II. Yakin bahwa kedamaian hanya akan datang jika orang cukup makan, ia pun memutuskan untuk mengembangkan sesuatu yang mampu memberi makan seluruh populasi Jepang – bahkan dunia. Syaratnya ada 4: Tidak mudah busuk, siap saji dalam waktu kurang dari 3 menit, ekonomis, dan aman untuk dicerna. Maka lahirlah Chikin Ramen pada tahun 1958. Ando pun resmi menjadi seorang pahlawan nasional, terbukti dengan rakyat Jepang yang memilih mi instan sebagai penemuan paling membanggakan di abad ke-20. (BBC.co.uk)

Meskipun Ando meninggal dunia 8 tahun yang lalu, warisannya tak pernah berhenti membantu masyarakat dunia dalam melawan fenomena kelaparan global yang sedang terjadi. Di saat para ahli gizi sibuk meributkan tentang peningkatan konsumsi sayur-sayuran dan daging organik di media, kreasi Ando diam-diam menyelamatkan milyaran orang dari jeratan kelaparan. Apabila manusia mampu menciptakan versi mi instan yang lebih sehat – bersodium rendah, mengandung nutrisi lengkap bagi tubuh, dan sanggup dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping – kita praktis akan menyelesaikan salah satu masalah kemanusiaan terbesar di dunia. Seperti yang pernah dikatakan Ando, “Mankind is Noodle-kind.” Sembari menunggu mimpi itu terjadi, hubungan manusia dan mi instan pun tak ubahnya seperti mantan pacar: benci-tapi-rindu.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Januari, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s