Pembelajaran Bisnis dari Wirausahawan Sukses Dunia

MUSKsum_2778344b
Diambil dari telegraph.co.uk

Hasil akhir menjadi seorang pebisnis teramat menggiurkan, namun tak banyak yang sanggup, apalagi berjaya, melewati proses panjang nan melelahkan. Tanya saja Elon Musk, Richard Branson, atau Jack Ma. Untungnya, selain rela jatuh bangun berkali-kali demi passion, ketiga tokoh revolusioner berikut juga memiliki satu kesamaan sifat, yaitu kreatif. Mereka adalah pebisnis kreatif dengan kemampuan berpikir kritis untuk melihat jauh ke depan.

Richard Branson
Diambil dari theguardian.com

Grup Virgin milik Branson awalnya adalah perusahaan rekaman. SpaceX (perusahaan roket komersial) and Tesla (mobil listrik) kepunyaan Musk merupakan yang pertama di bidangnya. Dan siapa yang tidak kenal dengan pencapaian Ma bersama grup Alibaba? Ya, Branson, Musk, dan Gates adalah wirausahawan generasi baru yang tak hanya memiliki etos kerja habis-habisan – all or nothing – tapi mereka juga tahu pentingnya menjadi kreatif agar berhasil.

140919121851-jack-ma-thumbs-up-620xa
Diambil dari Getty Images/ Andrew Burton

Oleh karena itu, muncul istilah creativepreneur: para entrepreneur yang cermat tentang perkembangan dunia bisnis, tapi tak takut untuk menantang status quo dengan sesuatu yang berbeda. Lantas, apa yang bisa dipelajari dari sosok sekaliber mereka?

  1. Start with Why.
9509142418_9992017408_b
Diambil dari flickr.com

Apakah Anda menawarkan sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya? Jika tidak, apa strategi Anda untuk menghadapi persaingan serupa – dengan harga lebih murah dan akses yang lebih gampang? Kenapa para konsumen harus memilih Anda? Mampukah mereka mengenali keunggulan kompetitif yang Anda punya?

Untuk menjawab pertanyaan sulit seperti ini, silahkan terapkan konsep The Golden Circle milik Simon Sinek[6]. Penulis/ motivator asal Inggris ini berhasil menemukan “The It Factor” yang membuat perusahaan inovatif seperti Apple berbeda dengan korporasi lainnya.

  1. Why (core belief): Apa filosofi yang mendasari pembentukan perusahaan Anda?
  2. How (cara berbisnis): Bagaimana Anda mewujudkan filosofi tersebut?
  3. What (jenis barang/ jasa yang dijual): Apa yang Anda tawarkan untuk merealisasikan filosofi perusahaan?

Rata-rata perusahaan memulai dari point C ke A, namun Apple memilih untuk memulai dari A ke C: abstrak ke konkret. Oleh karena itu, jargon marketing Apple lebih menitikberatkan filosofi perusahaan daripada keunggulan produk. Penasaran kenapa penggemar produk Apple cenderung sangat fanatik? Karena Apple sanggup membuat konsumennya mempercayai filosofi mereka. Jadi, mereka tak usah pusing lagi soal jual menjual karena loyalitas brand sudah terbangun.

  1. Information, information, information.
60seconds
Diambil dari go-gulf.com

Di zaman maha terhubung seperti sekarang, orang mulai meninggalkan kebiasaan membeli barang secara impulsif. Mental untuk senantiasa mendapatkan yang terbaik membuat kita tak jarang melakukan riset secara berjam-jam untuk barang keperluan sehari-hari saja. Dan kenapa tidak? Begitu banyak pilihan yang ditawarkan, ditambah dengan rentang perhatian manusia yang kian singkat, membuat siapapun memiliki 1.001 pilihan setiap waktunya.

Tak heran, sebagai creativepreneur, Anda perlu memiliki kemampuan riset terukur untuk memahami pasar: baik keunggulan kompetitif dari pesaing, ataupun tren terbaru. Media cetak tak lagi cukup cepat dipakai sebagai sumber informasi, karena jumlah data yang beredar dalam traffic pada tahun 2015 saja sudah mencapai 300 jam materi di YouTube, nyaris 350.000 tweets di Twitter, serta lebih dari 4 juta likes di Facebook – dalam kurun waktu satu menit [1][2].

Selain lewat para pengamat Big Data, ataupun situs tren niche seperti Reddit, alternatif lain dengan hasil yang tak kalah efektif adalah networking. Network yang berisi orang dengan beragam keahlian adalah aset yang sangat berharga di abad 21, karena mampu mempersingkat proses bertele-tele berkat power dari word-of-mouth. Ini jugalah teknik yang dipakai Tesla dalam untuk mempromosikan model S dan X tahun lalu. Tak tanggung-tanggung, komisi yang diberikan sebesar USD 1.000! [3]

  1. Create a formidable online presence.
Social-infographic_2014-2-01
Diambil dari leveragenewagemedia.com

Di Amerika Serikat, para remaja (8-18 tahun) menghabiskan lebih dari 9 jam untuk online setiap harinya [4], dengan porsi 85% di aplikasi seperti Facebook dan Google [5], sedangkan orang dewasa (>18 tahun) sebanyak 5.5 jam [6]. Wanita juga cenderung lebih menyukai jejaring sosial ketimbang pria. Dengan memahami data mengenai sifat konsumen, Anda pun bisa mendesain strategi digital marketing yang lebih jitu.

Instagram banyak dipergunakan untuk memamerkan portofolio, atau menjajakan aneka barang dengan menjajakan aneka barang dengan bantuan #hashtag. Facebook dan Twitter kerap dipakai sebagai tempat interaksi bagi para seller, mengunggah foto, serta menguatkan online persona. Pinterest untuk mengetahui selera dan pola belanja konsumen. Jangan lupakan website apabila Anda ingin meningkatkan tingkat konversi ke media lain, dan blog agar search traffic tetap tinggi.

Apapun media yang Anda pakai, pastikan Anda rutin memperbaharuinya dengan aneka fitur customer engagement, seperti yang dilakukan Alibaba[7]. Semakin baik interaksi antara konsumen dan brand Anda, semakin tinggi investasi (dan loyalitas) mereka kepada Anda. Namun, Anda juga perlu menawarkan customer service yang benar-benar responsif, terutama dalam menangani feedback negatif, sebelum keluhan tersebut naik di jejaring sosial dan mencemarkan nama perusahaan.

  1. Invest in design and storytelling.
ck-global-campaign-hp-1
Diambil dari uk.calvinklein.com

Kekuatan jejaring sosial berbasis foto seperti Instagram dan Pinterest sukses “mendidik” orang untuk memiliki apresiasi lebih terhadap desain. Namun, desain bukanlah sekedar estetika belaka, melainkan lebih kepada cara sesuatu bekerja. Desainer yang baik tak hanya terpaku dalam mengkreasikan produk, namun juga ekosistem untuk interaksi antar produk. Contohnya, Apple dan Tesla mengutamakan aspek customer-experience dalam mendesain produknya sehingga selalu tersinergi dan gampang dipakai.

misty-copeland
Diambil dari underarmour.com

Apple boleh saja memulai tren menggabungkan desain dengan bisnis, tapi perusahaan lain seperti Calvin Klein (I _____in #mycalvins), Nike (The Last Game), dan Under Armour (I Will What I Want) menggunakan teknik storytelling untuk menggaet konsumen. Ya, siapa lagi yang bertanggung jawab untuk mendesain brand storytelling jika bukan desainer? Plus, menurut S&P Index (indeks pasar saham Amerika Serikat), perusahaan yang mengutamakan desain unggul sebesar 219% selama lebih dari 10 tahun[9]. Jadi, masihkah Anda merasa ragu untuk berinvestasi dalam desain?

Untuk blog Clapham Collective (www.clapham.co.id), Februari 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s