Two Steps Ahead

IMG_3399
Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Maret, 2015. Credit to Amir Imanuddin.

Perawakannya boleh saja mungil dan tutur katanya halus, namun sosok Lidya Suhenti punya jiwa bisnis kental, hasil didikan Tanah Deli yang sudah menghasilkan puluhan generasi pebisnis kawakan. Meskipun baru berusia 24 tahun, sudah ada dua jenis usaha yang digelutinya: pakaian dan makanan.

Usaha pertamanya, online shop busana wanita bernama Premières House, pertama kali didirikan saat ia masih berada di bangku kuliah pada 2012. Dua tahun kemudian, insting bisnis Lidya tergerak kembali saat tren street food mulai menghangat di Kota Medan. Bersama 3 orang terdekatnya, termasuk sang kakak, Livair, kuartet ini pun mengadopsi penganan egg waffle yang populer di Hong Kong dan Macau untuk usaha yang kini kita kenal sebagai Offle.

Sejak dibuka pada November 2014, Offle sudah tersebar di 5 titik di dalam kota, 3 lokasi di daerah Binjai, dan bahkan sukses merambah ke Pulau Jawa, tepatnya Jakarta, dengan 2 outlet di kawasan Jakarta Barat dan Selatan. Alhasil, Lidya pun rutin bolak balik Medan – Jakarta untuk melakukan kontrol lapangan, terutama demi mengecek “induk” – tempat pembuatan adonan.

“Sekalipun sibuk, I still feel good, soalnya itu barometer kalau aku masih produktif,” komentar lulusan jurusan manajemen dari IT&B Campus yang sempat mencicipi pendidikan sastra Mandarin selama setahun di Shanghai. Offle memang merupakan generasi baru penggiat kuliner di Kota Medan – yang minim pengalaman dan modal – tapi tetap sanggup sukses karena ditekuni dengan keseriusan penuh.

Berikut ringkasan wawancara dengan wanita pecinta anjing ini tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis serta bucket list untuk 5 tahun ke depan.

1.Perjuangan seperti apa yang Anda alami saat memulai Offle?

Kombinasi dari empat otak kali ya. Ha-ha. Pertama kali banget, pas tiga bulan pertama, struggle-nya lebih ke cara menggabungkan ide-ide, tapi kita tetap memakai sistem suara terbanyak untuk memilih agar fair. Kita juga belajar untuk tidak mencampuradukan masalah bisnis dan personal atau micromanaging. Urusi saja beban pekerjaan masing-masing dan tetap bersikap profesional.

Terus, secara teknis, kita juga mengalami kesulitan di bidang controlling dan manajemen karena kita masih baru sekali di usaha kuliner ini. Waktu itu, ketiga partner lain, termasuk saya sendiri, masih punya pekerjaan masing-masing. Ya, walaupun kita tetap punya kesibukan tersendiri sekarang, kita sudah mulai menguranginya pelan-pelan biar bisa fokus di Offle.

2. Apa kunci kesuksesan Offle dibandingkan dengan bisnis street food serupa lainnya?

Kendati memiliki SOP (standar operasional prosedur) yang sederhana, kami cukup bawel perihal menjaga kualitas makanan, terutama adonan. Soalnya, kunci utama dari waffle itu sendiri adalah adonannya, jadi kami selalu membuat batch adonan baru setiap harinya. Jika ada yang tidak habis karena kebanyakan supply, langsung dibuang.

Resep waffle yang kami pakai memang tidak rumit-rumit amat, dapatnya dari nge-googling juga toh, namun quality control kami nomor satukan. Mulai dari kebersihan alat-alat hingga kesegaran bahan baku yang harus 100% fresh. Dari 22 menu yang ada, apabila ada yang bahan bakunya tidak benar-benar memadai, kami tidak tawarkan.

Hasilnya, kami punya market khusus yang menyukai Offle. Karena tren bergerak tiap 3 bulan sekali, kami rutin melakukan market research demi mempertahankan loyalitas konsumen. Di gerai, kami pun rajin memberi tahu para pegawai untuk berkomunikasi dengan para pembeli soal feedback.

Semua informasi ini nantinya kami pelajari bersama rekap jualan harian. Jadi, kita mengerti kenapa ada menu yang kurang diminati, atau perlunya mengeluarkan menu baru. Misalnya, jika konsumen sudah bosan dengan rasa manis, kemungkinan kita akan mengeluarkan varian rasa gurih.

3. Kisaran omset harian Offle?

Pernah mencapai angka 350 buah ketika mengikuti bazar di Medan dan Jakarta, namun bisa turun hingga angka 80 atau 100 saat akhir tahun tiba, kemungkinan karena orang-orang sedang pada liburan atau mau menabung untuk tahun baru.

4. Kenapa terpikir untuk melebarkan sayap ke Jakarta?

Dilihat dari kesuksesan Offle di Medan yang lumayan bagus beserta reaksi pasaran yang menerima dengan baik, kami pun berencana ekspansi ke kota lain. Kebetulan kota yang terpilih itu Jakarta. Nah, awalnya kami menargetkan buka di mal, tapi setelah kami lakukan market research, ternyata bentuk market di Jakarta itu bukan terkumpul di satu tempat layaknya di Medan, melainkan tersebar.

Susah sekali membaca pergerakan market Jakarta sebenarnya. To play safe, kami akhirnya memilih menerapkan plan B, yaitu berekspansi ke daerah pemukiman. Syukurnya, gerai di Jakarta tetap lancar meskipun kita harus bangun brand awareness nyaris dari 0 dan menghadapi pesaing-pesaing yang sudah matang.

5. Karena Offle belum termasuk franchise (< 3 tahun), bisakah orang lain membeli gerai Offle?

Asalkan “induk” (tempat pembuatan adonan) ada di kota tersebut, bisa-bisa saja, karena induk inilah yang akan menyuplai adonan ke semua gerai. Kami memang sangat ketat soal standar adonan. Ha-ha. Soal izin “franchising”, kami menawarkan 2 jenis paket, seharga 30 juta dan 70 juta, dengan fasilitas yang berbeda. Ada juga yang 20 juta, tapi itu hanya untuk izin pemakaian nama “Offle”.

Sejauh ini, kami cuma membuka kesempatan ini untuk luar wilayah Medan Kota, misalnya Binjai. Untuk mengetahui feasibility usaha di wilayah tertentu, kami akan bantu hitung soal BEP (titik impas), jika waktunya berkisar antara 4-6 bulan, go ahead. Kalau tidak bisa, kami memilih untuk menolak sebab tanggung jawab akan berat di si “franchisee” nantinya.

6. Setelah Offle, apalagi gebrakan selanjutnya dari seorang Lidya?

Jika tugas saya sudah bisa didelegasikan dengan baik dan cabang di Jakarta sudah beres juga, saya ingin mencoba menambah pengalaman usaha di bidang kuliner atau consumed goods. Sebabnya, kedua market tersebut yang paling besar dan enggak akan pernah stagnan. Saya lebih demen merealisasikan harapan yang ada dalam bucket list, yaitu travel the world. Semoga bisnis tetap bisa berjalan sambil saya mengelilingi dunia. He-he.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Maret, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s