Clean Eating

Diambil dari vegetarianrecipesmag.com.
Diambil dari vegetarianrecipesmag.com.

Is it the definite way to eat your way to perfection?

Tahukah Anda, gadget dapur mana yang mengalami peningkatan penjualan sebanyak 1.400% di Amazon tahun lalu? Bukan lagi koleksi pisau atau panci terbaru yang menenteng embel-embel nama celebrity chef tersohor, melainkan sebuah alat bernama spiralizer. Alat ciptaan negeri Sakura ini mampu mengubah sayuran/buah-buahan apapun menjadi irisan panjang mirip mi.

Diambil dari wonderesque.com.
Diambil dari wonderesque.com.

Bagi para pengikut tren diet Hollywood yang enggan menyentuh daging/ tepung, spiralizer dipakai untuk menciptakan menu seperti “zucchini spaghetti” atau “cucumber noodles”. Kreatif memang, tapi entah apa kata orang Italia dan Tiongkok melihat kreasi terbaiknya digantikan oleh alat mirip mainan anak-anak Jepang ini.

Diambil dari simplyrecipes.com.
Diambil dari simplyrecipes.com.

Kepopuleran spiralizer bukan tak beralasan. Tren diet yang semakin menjadi-jadi dari hari ke hari, mulai dari Paleo (makan layaknya orang purba pada 2.5 juta tahun lalu) hingga yang lebih ekstrim seperti Raw (segala sesuatu yang bisa dimakan mentah), membuat orang terobsesi dengan makanan organik berlabel sepanjang makalah: bebas pengawet, bebas gula, bersodium rendah, non-GMO (tanpa modifikasi genetik), dll.

Diambil dari cyneats.com.
Diambil dari cyneats.com.

Ya, generasi milenial tentu familiar dengan tagar #eatclean, #fitspo, atau #healthy yang sering nongol dalam caption foto Instagram, apalagi di feed para model/ foodie/ penggila gym. Foto otot terbaru nyaris akan selalu disandingkan bersama segelas jus hijau, atau superfood bernama eksotis seperti quinoa, chia seed, kale, açaí berry, dll. Berkat jejaring sosial, tren clean eating pun sukses go viral bagaikan meme rambut jagung milik calon presiden AS: Donald Trump.

Diambil dari kingarthurflour.com.
Diambil dari kingarthurflour.com.

Layaknya rambut Donald Trump juga, ada fakta yang harus ditelusuri keasliannya dahulu. Banyak tipe clean eatinggluten-free, sugar-free, sekaligus happiness-free – membanderol diri sebagai yang terbaik, namun benarkah itu? Sebagai contoh: gluten. Protein tepung satu ini pertama kali naik pamor saat Miley Cyrus mengumumkan bahwa ia menderita celiac – suatu penyakit genetik yang menyerang usus kecil akibat konsumsi gluten.

Diambil dari mollynilesrenshaw.com.
Diambil dari mollynilesrenshaw.com.

Kemudian, Victoria Beckham dan Jessica Alba pun mengakui hal yang sama. Tak heran, karena celiac memang menyerang satu di antara 100 orang di seluruh dunia. Akan tetapi, setelah Miley membeberkan keuntungan dari diet berjenis gluten-free, yakni kulit bebas jerawat dan badan yang lebih sehat (ramping), terbukalah jalan bagi selebriti lain untuk mengadopsi diet satu ini, meskipun mereka tidak menderita alergi gluten. Sebut saja si ratu “Conscious Uncoupling”: Gwyneth Paltrow.

Profesor Jane Ogden dari Universitas Surrey, Inggris, seorang ahli di bidang kesehatan psikologi, mengatakan bahwa kepopuleran tren diet anti-gluten sangatlah mengkhawatirkan. “Jika ada seseorang yang tidak alergi terhadap gluten tapi memilih untuk tidak mengkonsumsi gluten, kemungkinan mereka bisa menderita kekurangan gizi,” komentarnya kepada Eagle Radio, radio lokal di Inggris. “Jika Anda curiga alergi terhadap suatu makanan, ada baiknya Anda berhenti mengonsumsinya sama sekali, lalu pelan-pelan mencobanya kembali untuk melihat apakah gejala alergi muncul lagi,” nasihatnya.

Maksud clean eating sebenarnya baik, yaitu untuk mendorong kita agar makan lebih sehat. Namun, gegara pengaruh jejaring sosial yang begitu kuat dalam mendoktrin kesempurnaan, kita menjadi terdorong untuk saling pamer. Pamer tubuh yang lebih kurus, lebih berbentuk, lebih sempurna. Tanpa sadar, kita sudah menjadi penderita orthorexia nervosa, gangguan mental yang membuat seseorang sangat terobsesi dengan clean eating sehingga hanya mampu menyantap makanan tertentu, demi Instagram.

Diambil dari huffpost.com.
Diambil dari huffpost.com.

Ironis sekali rasanya melihat pola makan sehat bisa berubah menjadi eating disorder karena penerapan yang berlebihan. Tapi, itulah kenyataannya. Kesempurnaan adalah tolok ukur untuk segala sesuatu yang kita lakukan sekarang untuk menjadi “the perfect human”, termasuk menyangkut makanan. Namun, coba pikirkan skenario ini. Ketika anak-anak kita tidak mampu lagi menikmati keberagaman kuliner Nusantara karena dianggap “tidak sehat” oleh pemuka kesehatan dunia, apa yang akan Anda perbuat?

Tentu saja kita tak akan mulai menyantap rendang atau sop buntut setiap harinya. Masih ada lalapan dan aneka sayuran hijau dari tanah Nusantara yang bisa kita manfaatkan. Ingat saja untuk tidak berlebihan. Soalnya, apalah arti sebuah hidup di mana Anda tak bisa makan apa yang Anda mau, bukan?

Untuk Aplaus Magazine, Edisi April, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s