Finger-Licking Good

Diambil dari nytimes.com.
Diambil dari nytimes.com.

Adapting the hand-to-mouth dining for a better and healthier eating experience.

Dalam biografinya yang berjudul Nehru, A Contemporary’s Estimate, Jawaharlal Nehru, perdana menteri India pertama, mengungkapkan bahwa mendiang raja Iran, Mohammad Reza Pahlevi, pernah mengomentari kebiasaan makan dengan garpu dan pisau a la orang barat “bagaikan bercinta lewat seorang penerjemah”. Nehru sendiri selalu makan dengan garpu dan pisau.

Meskipun saya tidak tahu banyak mengenai jasa murid Mahatma Ghandi ini, saya menyukai pemikirannya yang logis mengenai cara makan. Soalnya, inilah kebiasaan bersantap orang Indonesia yang paling enggan saya praktekkan apabila memungkinkan.

Tapi, bagi Anda yang mulai ingin menceramahi saya tentang nikmatnya makan dengan tangan, coba pikirkan dahulu pertanyaan berikut: Sudah berapa kali Anda mencuci tangan sebelum makan hari ini – lengkap dengan sabun dan air. Indonesia terkenal akan banyak hal, tapi tidak untuk ketaatan mencuci tangan. Faktanya, lebih kurang 34% populasi dunia juga memiliki sikap yang sama dengan penduduk Ibu Pertiwi perihal kebersihan tangan, baik setelah “ke belakang” ataupun sebelum makan (Unicef India).

Diambil dari wikimedia.org.
Diambil dari wikimedia.org.

Kobokan (finger bowl) yang pertama kali didokumentasikan pada abad ke-13 tidak membantu banyak. Meskipun praktis, kobokan menciptakan ilusi bahwa tangan sudah bersih apabila dicelupkan selama beberapa detik saja di dalam air yang kadang diberi irisan jeruk nipis atau daun mint.

Menurut WHO, diperlukan setidaknya 20 detik mencuci tangan dengan sabun dan air agar benar-benar bersih hingga resiko diare minimal atau tidak ada. Dan FYI, diare merupakan pembunuh balita nomor dua di Indonesia dan pertama di seluruh dunia!

Selain lalai mencuci tangan secara benar, masih ada faktor kebersihan kuku. Tentunya Anda pernah melihat kuku panjang dengan sisa-sisa makanan yang terselip di antaranya, bukan? Belum lagi yang bergaris-garis hitam tanda kotor! Ya, nafsu makan efektif buyar seketika.

Alhasil, diberikan opsi untuk mempercayai ilusi “perut baja” atau kesaktian kobokan, orang malas – tapi takut mulas – seperti saya pun menjatuhkan pilihan kepada aneka peralatan makan seperti sumpit, sendok, dan garpu agar tak perlu mengotori tangan saat makan.

Diambil dari medicaldaily.com.
Diambil dari medicaldaily.com.

Tapi saya tak sendiri. Kefanatikan masyarakat sekarang soal multitasking dan gadget membuat kebiasaan makan dengan tangan pelan-pelan ditinggalkan. Pasalnya, jam makan tak lagi hanya digunakan sebagai waktu mengisi perut, namun juga untuk menonton seri TV favorit, membalas e-mail, online shopping, ataupun browsing jejaring sosial. Nah, bayangkan betapa kesal rasanya apabila Anda tak bisa mengetik, menekan simbol like, atau memencet tombol pause karena jemari Anda berlumuran bulir nasi. Repot amat!

Namun, ternyata kebiasaan makan dengan tangan dianggap sebagai tradisi yang cukup penting untuk disosialisasikan kembali. Media sekaliber New York Times dan National Public Radio bahkan pernah merilis artikel sehalaman penuh demi membahas tradisi “dunia ketiga” satu ini.

Jadi, apa yang menarik sebenarnya dari fenomena makan dengan tangan? Apakah makan dengan tangan benar-benar bisa membuat cita rasa makanan lebih nikmat? Ritual makan tambah khusyuk? Ataukah hanya sugesti belaka?

Diambil dari friendshipcircle.org.
Diambil dari friendshipcircle.org.

Sejak dulu, selepas ASI, alat pertama yang bayi pakai untuk menyantap makanan padat tanpa bantuan sang ibu adalah kedua tangannya. Dianjurkan pula, karena makan dengan tangan melatih kemampuan saraf motorik yang amat penting di bawah anak usia 3 tahun.

Akan tetapi, karena dipengaruhi oleh penjajahan kaum Eropa selama nyaris 400 tahun, khususnya Belanda, orang Indonesia mulai belajar makan dengan sendok dan garpu agar dianggap lebih “beradab” – yang kemudian diturunkan ke generasi selanjutnya.

Zaman sekarang, kemahiran menggunakan peralatan makan tertentu bahkan dapat dijadikan sebagai tolak ukur tingkat sosial ekonomi seseorang. Semakin luwes Anda memakai sumpit – sering menyantap makanan oriental – atau pisau – pernah mencicipi steik – bisa membuat status Anda kian cemerlang di mata orang tertentu. Tak ayal, makan dengan tangan dianggap sebagai kebiasaan barbar dari penduduk negara berkembang yang belum disentuh oleh perkembangan waktu dan teknologi.

Di sisi lain, mayoritas penduduk di kawasan Timur Tengah, Uni Emirat Arab, Afrika Utara, serta India dan Malaysia masih menganut prinsip makan dengan tangan hingga sekarang. Jikapun ada sendok yang dipakai, itu hanya berfungsi sebagai untuk memindahkan makanan dari piring besar (untuk berbagi) ke piring masing-masing – bukan ke mulut. Macam kafgeer, sebuah sendok rata besar mirip sekop untuk menyendok nasi di Afghanistan. Apa pasal?

Diambil dari scmp.com.
Diambil dari scmp.com.

Menurut kepercayaan Weda yang dipeluk masyarakat India, makanan tak cuma berguna bagi tubuh, tapi juga batin dan jiwa. Tangan diyakini sebagai organ tubuh paling pantas untuk memberi makan, karena tiap jemari merupakan perwakilan dari 5 elemen alam: udara, api, air, tanah, dan alam semesta. Ketika makanan bersentuhan dengan jemari, kelima elemen ini lalu menstimulasi enzim pencernaan sehingga makanan bisa tercerna lebih baik.

Tak hanya ilmu Ayurveda saja, hard science turut membuktikan jika makan dengan tangan mampu membuat pengalaman bersantap tambah nikmat. Alasannya, karena ada satu indra lagi yang aktif terlibat saat kita makan, yaitu indra peraba. Mampu menyentuh makanan secara langsung – untuk merasakan tekstur dan suhunya – memberikan informasi lebih tentang makanan sebelum dirasakan oleh lidah.

Diambil dari jennifermurch.com.
Diambil dari jennifermurch.com.

Dalam sebuah studi yang dilakukan profesor kinesiology Michael Barnett-Cowan dari University of Waterloo, Amerika Serikat, ia mengetes bagaimana sentuhan mempengaruhi persepsi rasa dari pretzel. Pada sesi pertama, ia memberikan pretzel setengah baru dan setengah basi pada seluruh peserta. Dengan tangan, setengah dari mereka diminta untuk merasakan tekstur ujung pretzel yang baru, dan setengahnya lagi basi.

Pada sesi kedua, ia meminta para peserta untuk menggigit ujung pretzel berlawanan dari sisi yang mereka pegang. Peserta yang memegang pretzel basi kemudian memberikan penilaian rasa yang lebih rendah meskipun mereka mencicipi bagian pretzel yang baru. Sebaliknya, peserta yang mencicipi bagian pretzel basi namun memegang pretzel baru memberikan nilai yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tekstur makanan yang disentuh dengan tangan dapat mempengaruhi cara otak dan lidah merespon.

Jurnal Clinical Nutrition 2012 menambahkan bukti hubungan penyakit diabetes tipe 2 dengan orang yang menghabiskan makanannya dalam waktu singkat. Makan dengan tangan menuntut kita untuk merasakan proses makan secara menyeluruh, sehingga kita tak tergoda untuk makan berlebih. Lidah tak lagi dikejutkan oleh suhu makanan yang terlalu panas karena sudah diukur dahulu oleh tangan.

Diambil dari frenchtoday.com.
Diambil dari frenchtoday.com.

Akan tetapi, makan dengan sendok dan garpu menyederhanakan proses makan sehingga kita cenderung terburu-buru untuk menghabiskan makanan – dan makan terlalu banyak (overeat) – sebelum otak sempat mengirimkan sinyal tanda “penuh”. Tak ayal, kadar gula darah menjadi tak stabil dan tubuh semakin gemuk.

Makan dengan tangan juga membantu penyebaran bakteri baik dari mulut ke organ pencernaan untuk memperkuat sistem imun tubuh. Ya, mungkin ini juga penyebab kenapa anak desa yang menghabiskan hari-harinya dengan tanah dan lumpur malah lebih jarang sakit dibandingkan dengan anak kota dengan diet yang sudah diatur sedemikian rupa.

Tak berarti kita harus bersikeras menggunakan tangan untuk menyantap segala sesuatu. Untuk sup, mi, kue, dan aneka sajian yang tak mungkin dimakan dengan tangan, pakailah sendok, garpu, atau sumpit. Itulah gunanya peralatan makanan diciptakan. Namun, jika Anda punya akses ke sabun dan air bersih, jangan segan untuk melahap gundukan nasi padang dengan alat makan yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada Anda: tangan.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Juli, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s