The Spicy Kick

Diambil dari rawmultimedia.files.wordpress.com.
Diambil dari rawmultimedia.files.wordpress.com.

What does chili pepper have to do with sexual fetishes, birds, and gender?

Diambil dari blog.owu.edu.
Diambil dari blog.owu.edu.

“Orang yang suka makanan pedas itu masokis,” komentar seorang kolega terhadap kecintaan saya akan segala macam kuliner berempah dengan cabai melimpah. Karena saya jelas-jelas tidak pernah bermimpi menjadi sosok submissive macam Anastasia Steele ataupun mendambakan pria pecinta BDSM bak Christian Grey, tentu saja saya bertanya-tanya tentang kebenaran stereotipe satu ini. Apa hubungan tumbuhan yang masih serumpun dengan tomat, kentang, dan tembakau berikut dengan preferensi seksual seseorang? Ternyata cukup menarik.

Terlepas dari faktor budaya dan makanan masa kecil, seberapa banyak cabai yang kita konsumsi juga dapat merefleksikan jenis kepribadian yang kita punya – kesimpulan dari riset terbaru milik Pennsylvania State University’s College of Agricultural Sciences. Menurut hasil penelitian Nadia Byrnes dan John Hayes, respon seseorang terhadap capsaicin (zat aktif yang membuat cabai terasa pedas) terbagi menurut gender.

Diambil dari youtube.com.
Diambil dari youtube.com.

Kebanyakan pria cenderung menyantap makanan pedas hanya untuk mengesankan lawan jenis, bukan karena mereka menyukainya. Tekanan sosial untuk terlihat jantan adalah penyebab utamanya. Namun, bagi para alpha males yang sungguh-sungguh doyan rasa pedas, mereka juga gemar menantang diri dengan aneka kegiatan beresiko tinggi, seperti bungee jumping, berenang dengan hiu, dan bahkan berjudi. Pasalnya, kadar testosteron yang tinggi memupuk libido dan sifat agresif untuk mencoba hal-hal baru. Sebaliknya, para pejantan dengan jiwa penjelajah yang kuat juga berpotensi 6x lipat menyukai rasa sambal aceh.

Di sisi lain, kaum hawa ternyata demen dengan sensasi “terbakar” yang ada di tenggorokan ketika mencicipi sajian kaya capsaicin, reaksi yang dinamakan Dr. Paul Rozin dari University of Pennsylvania sebagai “benign masochism” atau masokis tingkat lemah. Dalam sebuah penelitiannya, ia mengetes batas ketahanan sekumpulan orang Amerika dengan makanan Meksiko yang terkenal super pedas. Rupanya, tingkat kepedasan yang mereka sukai berada pas di bawah batas toleransi maksimum. Masochist, much?

Diambil dari barcelona-home.com.
Diambil dari barcelona-home.com.

“Seiring dengan waktu, manusia belajar untuk menyukai rasa takut dan gairah yang timbul sewaktu menonton film horor maupun naik roller coaster. Selama aktivitas tersebut tidak benar-benar menyakiti kita, kita tetap akan merasa tertarik,” jawab profesor psikolog ini tentang alasan manusia menyukai aksi berbahaya, termasuk menyantap cabai. John McQuaid, penulis buku Tasty: The Art and Science of What We Eat, menambahkan bahwa reseptor rasa sakit dan nikmat di otak manusia terletak cukup dekat, sehingga transisi dari sensasi negatif ke positif bisa terjadi. Ah, ternyata ini juga alasan mengapa BDSM disenangi oleh kalangan terkhusus!

Diambil dari youtube.com.
Diambil dari youtube.com.

Sejak pertama kali dibudidayakan di Meksiko lebih dari 6.000 tahun silam, kini ada 27 spesies cabai yang sudah berhasil diklasifikasikan. Lima di antaranya yang dikonsumsi secara umum, termasuk paprika, jalapeños, cabai gendol untuk saus Tabasco, hingga Carolina Reaper, si cabai terpedas nomor satu di dunia dengan tingkat kepedasan sebesar ±2.200.000 SHU (Scoville Heat Units). Kira-kira rasanya sama pedas dengan melahap 22 biji cabai rawit sekaligus.

Jika ingin mencoba California Reaper tanpa membakar habis langit-langit mulut Anda, buang dahulu tangkai yang menjadi tempat melekatnya biji-biji cabai. Tangkai ini adalah jaringan ari-ari dengan zat capsaicin terbanyak, bukan biji seperti yang banyak orang kira. Faktanya, biji cabai bahkan tidak mengandung capsaicin sama sekali, lho!

Diambil dari pgbooks.ru.
Diambil dari pgbooks.ru.

Namun, jangan pula mengetes seberapa pedas jenis cabai tertentu dengan memberikannya pada burung peliharaan Anda, karena mereka tak mampu sungguh-sungguh merasakan rasa pedas berkat minimnya papila pengecap yang mereka punya. Contohnya: ayam hanya memiliki sebanyak 24 buah, dan burung dara hanya 37. Bandingkan dengan kelompok mamalia seperti Homo sapiens yang memiliki nyaris 10.000 buah. Inilah cara bagaimana Aves membantu Christopher Columbus dalam menyebarkan cabai dari Amerika Latin hingga ke seluruh dunia.

Tak hanya pedas belaka, cabai yang kaya vitamin A dan C, zat antioksidan, dan capsaicin juga mampu meningkatkan metabolisme tubuh, menurunkan tekanan darah dan kolesterol, menjaga kesehatan jantung, serta memperpanjang umur Anda! Mulai merasa mumet? Pesan saja seporsi kari India dengan cayenne pepper yang banyak untuk memancing tubuh Anda memproduksi hormon endorfin. Cara paling Medan untuk mengembat rasa stres – lewat makanan!

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Mei, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s