The Softer Side of Indra Lesmana

Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Juli, 2016. Credit to Amir Imanuddin.
Diambil dari Aplaus Magazine, Edisi Juli, 2016. Credit to Handaya Wira Yuga.

Catching up with the jazz virtuoso on his life now.

Indra Lesmana tampak lebih tenang sekarang dibandingkan era ’90-an silam; masa saat kehidupan pribadinya lebih banyak dibahas oleh media negeri daripada pencapaiannya sebagai seorang musisi. Mungkin keputusannya untuk menetap di Pulau Dewata sejak Desember 2014 bisa jadi merupakan penyebab utama.

Mungkin juga karena ia menghabiskan sebagian besar kesehariannya bersama anak-anak di Sanggar Musik Indra Lesmana, sanggar musik pribadinya di Kesiman, Sanur. Kini, rutinitas hidupnya kian santai: mengantar anak kesayangan ke sekolah, berenang, dan membuat musik. Apapun alasannya, Indra terlihat tambah segar dan bahagia.

Sebagai anak legenda jazz Jack Lesmana, Indra memang tumbuh besar di keluarga pecinta seni. Suara nyanyian sang ibu, Nien Lesmana, rutin terdengar di radio dan TV tahun ’60-an, sedangkan sang kakak, Mira Lesmana, merupakan salah satu produser film pentolan tanah air.

Indra sendiri punya rekam jejak karir yang pantas disandingkan dengan sang ayah – jika bukan lebih. Si jazz prodigy Joey Alexander bahkan pernah berguru kepadanya selama 2 tahun di Bali sebelum akhirnya meraih 2 nominasi gemilang di ajang Grammy Awards.

Mengenakan kaos merah salem, celana Bermuda, serta sepatu slip-on, Aplaus pun berbincang santai dengan ayah tiga anak ini soal kesibukan barunya di Bali, perkembangan industri musik, serta kebiasaan uniknya sebelum tidur.

1. Semenjak pindah ke Bali, apa kabar jazz club Red White Jazz Lounge kepunyaan Anda?
Di Bali, saya jelma Red White Jazz Lounge menjadi Sanggar Musik Indra Lesmana. Saat ini, kegiatan yang kita lakukan setiap dua minggu sekali adalah mengadakan acara bernama Mostly Jazz. Ini sama seperti cara kita memulai Red White Jazz Lounge dahulu, yaitu dengan sebuah acara off-air. Sekarang saya juga mulai mengajar lagi. Apabila frekuensi mengajar saya di Jakarta lebih sedikit, di Bali sudah lebih banyak.

2. Seperti apa sistem pengajaran yang diterapkan di sanggar Anda?
Sebenarnya, saya merasa sudah ada banyak sekolah musik formal di Indonesia, seperti kursus dan sebagainya. Apa yang kami ingin kembangkan di Bali adalah sebuah tempat di mana anak-anak yang datang ke sini tak hanya belajar musik. Kita juga ingin mengolah aspek emosi dan “rasa” mereka, bukan cuma skills. Pasalnya, mengolah rasa itu butuh interaksi dan melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan rasa empati, yang kemudian memicu lahirnya sense of appreciation, dan akhirnya kreativitas.

Program yang sedang kita galakkan sekarang malah untuk anak-anak berumur 3 tahun. Alasannya karena kita tidak mau menampung anak-anak berbakat, tapi mau membuat anak-anak menjadi berbakat. Bukan berarti kita tidak welcome, sebaliknya kita sangat membuka diri. Tapi saya pikir anak-anak di umur 3-5 tahun sangat menarik, apalagi daya kreasi mereka. Inilah yang ingin saya kembangkan. Nah, cara mengembangkan “rasa” ini adalah mendekatkan mereka dengan alam, seperti menanam di sawah atau memberi makan ikan. Di Jakarta, bagaimana caranya? Ha-ha.

3. Testimoni dari orang tua murid sejauh ini?
Mereka sangat senang dengan beberapa program yang kita lakukan meskipun kita belum grand launching. Rencananya tahun depan. Sekarang kita masih dalam proses membangun dan mengolah. Saya sendiri tak percaya dengan hal instan. Saya perlu diproses juga kiranya. Bukan yang kucuk-kucuk datang ke Bali untuk bikin ini itu.

Sanggar ini memang bentuk CSR yang notabenenya berbasis komunitas, tapi ini juga saya pandang sebagai kesempatan untuk give back to society. Menurut saya, sanggar seperti ini seharusnya bisa berjalan untuk seterusnya, bahkan hingga saya saya tua dan tiada. Oleh karena itu, saya juga ada melibatkan konsulat. Soalnya, ini bukan sekadar tentang belajar musik; this is for a better world.

4. Anda tampil kembali bersama Krakatau Reunion di North Sumatra Jazz Festival Mei lalu setelah vakum lebih dari dua dekade. Apa perbedaan mencolok yang Anda rasakan dari industri musik sekarang dan dulu?
Industri musik dari tahun 2013 ke atas memang sangat berbeda sekali dengan tahun ’80-an atau ’90-an. Sudah berubah total. People don’t buy music anymore. Di era saya, orang-orang harus ke toko kaset atau CD untuk membeli musik. Musik itu bagian dari biaya belanja bulanan.

Now, people can listen to music for free. Ada Youtube, Google, Spotify, dsb. And people don’t buy albums anymore; they only listen to songs. Mereka cuma pilih yang mereka mau. Dulu, jika kita suka satu musisi tertentu, kita bakalan beli albumnya, lengkap. Macam Sting, The Police, atau The Beatles. Ditunggu malah. That kind of habit doesn’t exist anymore.

5. Bagaimana dengan jazz?
Pada era ’80-an dan ’90-an, jazz juga punya industri musik tersendiri. Kebetulan pembajak musik di Indonesia pada waktu itu punya selera musik yang lumayan bagus. Mereka suka Chaka Khan dan George Benson. Alhasil, musik mereka yang dibajak dan akhirnya booming di Indonesia. Namun jenis musik yang mereka mainkan itu tidak pure jazz. Ada unsur pop-nya. Musik seperti inilah yang digemari.

Kemudian muncul band macam Krakatau Reunion dan Karimata yang mengusung musik sejenis itu. Industri musik jazz Indonesia sebenarnya dibesarkan tidak langsung oleh kondisi unik tersebut. Lalu pada tahun ’80-an ada perang terhadap pembajakan. Musik jazz-pop pun menjadi susah untuk didapatkan. Penggemar musik lantas beralih ke genre alternative/ grunge yang memadati MTV waktu itu.

Industri pop-jazz Indonesia sebenarnya sudah mati dan baru dihidupkan kembali oleh The Groove dan Maliq & D’Essentials mendekati tahun 2000. Nah, warna musik mereka itu Krakatau banget. Mereka adalah penerus kita. Sekarang sudah tidak ada lagi grup seperti itu. Yang ada mungkin penyanyi yang beraliran lebih pop seperti Raisa dan Tulus.

6. Apa kesulitan terbesar yang dihadapi musisi sekarang?
Karena penyanyi saat ini tidak bisa lagi menjual lagu macam kita dulu, yang bisa laku hingga 1-2 juta kopi, alhasil mereka lebih banyak tampil live dan bikin acara off-air. Sekarang bisa laku 1.000-10.000 kopi saja sudah senang sekali. Mereka tetap buat lagu baru pastinya. But how do you let people know about your new song? You give them for free! Kalo dijual juga bakalan dibajak nantinya, jadi bagusan diberikan secara cuma-cuma biar semua orang bisa tahu. Baru kita bisa main live. Strategi menjual musik memang benar-benar sudah berubah.

7. Lantas bagaimana cara musisi mencari pemasukan?
Di mindset para musisi, membuat album bukan lagi untuk jualan, tapi bagian dari marketing. Modalnya pun sudah termasuk ke dalam budget marketing. Untuk mendapatkan uang, bisa dari fanbase atau merchandise. Nah, album ini salah satunya. Album dianggap sebagai merchandise sekarang. Soalnya toko CD sudah nyaris tidak pernah terlihat lagi, bukan? Sedih memang, tapi jika kita melihat teman-teman macam Raisa, Tulus, dan Barasuara, mereka main nyaris setiap hari. Mereka perform lebih banyak bahkan dibandingkan saat zaman saya, and that’s how they make money.

8. Cara Anda untuk memperkaya diri sebagai seorang musisi?
Saya suka baca buku, terutama buku yang tak hanya bisa meningkatkan wawasan, tapi juga sudut pandang. I read a lot of philosophy, and I happen to be into outer space. Saya selalu ingin tahu ada apa saja di luar sana, apakah ada kemungkinan kehidupan lain di galaksi lain? Dengan sering membaca buku tentang luar angkasa malah membuat kreativitas saya makin liar.

Soal teknik, saya masih latihan setiap hari. Meskipun suka membuat musik, saya tetap luangkan waktu untuk latihan dengan piano. Kemudian saya senang menikmati musik dari musisi yang lagi hip. Jadi saya selalu nge-search sesuatu yang saya tidak tahu. Saya tetap ada dengerin Miles Davis, John Coltrane – the jazz legends.

Tapi yang bikin saya terinspirasi adalah anak-anak muda yang mengkreasikan hal-hal baru. Jadi yang biasa saya lakukan tiap malam setelah istri tidur adalah ini: saya buka iTunes, terus saya klik bagian Genre. Saya enggak selalu pilih jazz, kadang elektronik malah. Then I go to Charts. Dari sini saya bisa tahu anak-anak sekarang lagi demen dengerin musik elektronik yang seperti apa. Dan saya tidak hanya masuk ke iTunes lokal saja. Saya coba juga iTunes Australia, Eropa, Rusia, dll. Sometimes I found something really wild. And I love it!

9. Adakah ambisi tersisa yang belum terwujudkan?
Saya ingin mengejar ambisi anak-anak yang saya ajar di sanggar ini. Saya enggak punya mimpi yang muluk-muluk lagi. Dengan adanya sanggar, saya bisa mewujudkan mimpi orang lain. Pada zaman Krakatau, mimpi saya masih seperti Ricad Hutapea (musisi muda jazz asal Kota Medan), which is to be famous. Saya enggak mau menjadi terkenal lagi. Jika ada murid yang datang ke sanggar saya, saya bakalan tanya,” What do you want to be when you grow up?” Jika dia jawab ingin menjadi pianis jazz paling hebat, saya akan bantu dia untuk mengejar mimpi tersebut. Let’s catch that dream together.

Untuk Aplaus Magazine, Edisi Juli, 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s